Sekelumit Tentang Kafe Di Kota Malang
Diposting oleh
Kris
|
Label:
Seputar Cafe
Sosiolog berkebangsaan Jerman, Juergen Habermas (1989) mencandra bahwa munculnya lembaga publik baru (new public institution) dii Eropa Barat pada sekitar abad 17 dan 18 menjadi titik-awal lahirnya “bourgeois public sphere”. Lembaga-lembaga publik baru itu berupa klub-klub, majalah-majalah, jurnal-jurnal, kedai-kedai kopi, salon-salon, dan ruang-ruang kafe lantai atas (cenacles).
Artinya, dalam bacaan Habermas, Kafe dan kedai kopi menjadi salah-satu institusi publik baru yang sanggup menghadirkan “new sub-culture” bagi masyarakat Eropa. Di kafe dan kedai kopi itu terjadi pertukaran diskursus kebudayaan borjuasi yang mendorong tumbuhnya kesadaran intelektual baru, yang lebih terbuka dan progresif, berbeda dengan diskursus lama yang relatif tertutup dan konservatif.
Menjamurnya kedai kopi dan kafe di Eropa Barat kala itu merupakan imbas dari ditemukannya “minuman ajaib” yang berasal dari biji kopi yang kemudian ditumbuk menjadi bubuk dan disedu dengan air hangat. Sebelum akhirnya menyebar di Eropa, Turki – di bawah kekhalifahan Ottoman – adalah Negara pertama di dunia yang memperkenalkan istilah kedai kopi atau coffeehouse, yang kemudian berkembang di Negara-negara Arab. Di coffeehouse itu, orang kerap melakukan berbagai pertemuan (termasuk pertemuan politik) dan berbagai kegiatan kebudayaan (termasuk mendongeng).
Perkembangan coffeehouse semakin menjamur di dunia tatkala utusan Sultan Muhammad IV mendatangi Paris, Perancis. Utusan sang Sultan itu membawa berkarung-karung biji kopi dan “mengajari” minum kopi di kalangan para bangsawan Perancis. Sejak itulah menjamur berbagai kedai kopi di Perancis, yang kerap diberi nama ‘Café”. Dari Perancis-lah – kemudian, istilah café menyebar ke seluruh Eropa dan dunia. Café – seperti kata Habermas – menjadi lembaga publik baru di Eropa Barat yang sekaligus menjadi ruang perjumpaan kaum borjuis untuk berbincang dan mengisi waktu luang.
Transformasi Kafe
Seiring perkembangan jaman, Café atau Kafe (dalam bahasa Indonesia) tak hanya melulu menyajikan menu minuman kopi. Kafe berkembang menjadi semacam “warung” dengan sajian yang lebih beragam. Kudapan, camilan, makanan, dan jenis-jenis minuman lain menjadi menu tambahan yang disajikan oleh sebuah Kafe. Kopi tidak lagi menjadi menu satu-satunya, meskipun tetap ada. Namun demikian, meskipun Kafe telah bertransformasi sedemikian rupa dengan menyajikan berbagai menu, ungkapan “ngopi” masih sering dipakai untuk merujuk aktivitas makan, minum atau berkumpul di Kafe.
Di samping itu, Kafe juga bertransformasi dalam bentuk tampilan (eksterior maupun interior), sajian hiburan tambahan, dan tema yang diusung mengikuti selera pasar atau mengikuti inovasi sang pemilik Kafe. Di Kota Malang, misalnya, ada Kafe bernama “Coffe Story”. Kafe yang terletak di Jalan Kawi Atas no 23 Malang ini mempunyai keunikan dalam hal tema yang di usung. Coffe Story – sesuai dengan namanya – mengusung tema menghadirkan cerita tentang segala hal tentang kopi. Di Kafe ini, pelanggan disuguhi segala pengetahuan tentang kopi. Mulai dari cara minum kopi yang benar sampai melihat secara langsung proses pembuatan kopi, dari biji kopi sampai menjadi kopi yang bisa diminum, yang diperagakan oleh seorang barista. Pelanggan pun, jika mau, bisa melakukannya sendiri. Di samping itu, Coffe Story juga menyajikan menu segala varian kopi, baik lokal maupun internasional, di samping menu-menu pendamping. Luwak coffe, Espresso, Latte, Papua Kimbin, Toraja Coffe, Flores Bajawa, Uganda Bugisu adalah beberapa jenis kopi yang ditawarkan di Kafe ini. Di luar Coffe Story, masih banyak Kafe di Malang yang mencoba tampil beda untuk menggaet pelanggan.


Namun, di Kota Malang, ada juga Kafe yang memposisikan diri bukan untuk mengeksploitasi gaya hidup urban, tetapi menjadi ruang untuk melakukan dialektika pemikiran. Kedai Kopi Tjangkir 13 dan Warung Kelir adalah contoh Kafe yang hadir sebagai tempat pertemuan orang-orang tedidik untuk melakukan diskusi masalah-masalah politik, dan kebudayaan. Di kedua Kafe ini, kegiatan-kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah berdiskusi tentang isu-isu politik. Artinya, Kedai Kopi Tjangkir 13 dan Warung Kelir tidak memposisikan sebagai bagian dari sub-kultur mainstream budaya borjuasi urban Kafe-Kafe di Malang.
Kafe dan Kebudayaan Borjuasi Urban
Kafe merupakan produk kebudayaan borjuasi urban yang sering dipakai oleh komunitas-komunitas tertentu di perkotaan untuk menjadi tempat mengisi waktu senggang. Bahasa anak muda, Kafe adalah tempat untuk nongkrong, hangout, kongkouw-kongkouw atau cuci-mata. Artinya, dalam perspektif kebutuhan, ngopi di Kafe adalah sebuah kebutuhan sekunder atau bahkan tersier. Ngopi di Kafe bukanlah sebuah kebutuhan primer.
Namun, karena Kafe telah menjadi bagian dari sub-kultur budaya urban, “ngafe” tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan sekunder atau tersier tetapi telah menjadi kebutuhan primer. Ngopi di Kafe atau makan di Kafe merepresentasikan sebuah kebudayaan borjuasi urban. Artinya, seseorang baru sah dianggap sebagai orang kota jika dia telah terlibat dalam budaya “ngafe” ini. Hal ini juga berlaku di kalangan mahasiswa yang “dipaksa” untuk mengikuti irama budaya borjuasi urban ini.
Lebih lagi, sejak tahun 2000-an, Kafe di Kota Malang terus tumbuh pesat, menawarkan berbagai macam varian, yang juga berimplikasi pada habitus mahasiswa. Hadirnya Kafe-Kafe itu mendorong mahasiswa Malang untuk menghabiskan waktu senggang dengan “ngopi”. Kedai Kopi (dan ketan) di sisi Barat Alun-Alun Kota Batu adalah salah-satu tempat favorit para mahasiswa untuk kongkouw-kongkouw sambil menikmati sejuknya kota Batu.

Sebagaimana diuraikan oleh Habermas, bagi mahasiswa, kedai kopi atau Kafe merupakan institusi publik yang dimanfaatkan sebagai ruang untuk mendeliberasikan diskursus publik. Di Kafe, secara egaliter, mahasiswa melakukan perbincangan-perbincangan tentang masalah kuliah, tugas-tugas, hobi, aktivitas organisasi, sampai masalah politik. Formalitas kuliah yang kaku dan rigid menjadi cair saat diperbincangkan di Kafe. Lebih lagi, jika dalam aktivitas ngopi itu, satu atau dua dosen ikut nimbrung, suasana egaliter semakin terasa.
(Sumber: Siperubahan.com)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)










0 komentar:
Posting Komentar